Andai Bangsa Indonesia Bisa Kembali Menjadi Bangsa Pejuang

Bila mengingat masa-masa sekolah dulu, hampir setiap pelajaran sejarah kita disuguhi sebuah pengetahuan tentang betapa luhurnya bangsa kita. Banyak cerita kepahlawanan putra putri bangsa kita, mulai dari Gadjahmada, Pangeran Diponegoro, Cut Nyak Dien dan masih banyak lagi.

Dulu, setiap mendengar cerita kepahlawanan mereka, keteguhan prinsip mereka, dan perjuangan mereka, seolah saya tergerak untuk membayangkan bagaimana mereka berjuang dulu, bagaimana mereka mengalahkan musuh demi musuh demi sebuah pengabdian, harga diri dan bangsa mereka.

Padahal, kalo dipikir hidup jaman dulu dengan jaman sekarang, pastinya lebih susah jaman dulu yach.. Soalnya, kalo bapak ibu saya cerita tentang bagaimana hidup mereka dulu, saya bisa membayangkan betapa banyak kemudahan yang sudah kita nikmati di hidup kita sekarang. Akan tetapi, apa kita sudah cukup mensyukurinya? Hmm.. mungkin cuma Tuhan yang dapat menjawabnya πŸ™‚

Sedikit mengingat perjalanan pulang saya naik kereta dari Jakarta menuju Jogja 2 minggu yang lalu. Di daerah Ketanggungan, kereta yang saya naiki sempat berhenti cukup lama. Kebetulan saya sudah lama sekali tidak naik kereta, terakhir kalinya kira-kira sudah hampir 16 tahun yang lalu. Maka dari itu, saya sempat kaget karena ketika keretanya berhenti di Ketanggungan kok banyak suara “Om.. kasih dong Om…”, “Om.. minta uangnya dong Om…” dari luar kereta. Saya melihat keluar, dan ternyata yang meminta-minta adalah beberapa anak umur 10-14 tahunan.

Saya juga sebenarnya heran dengan sikap mereka. Padahal kereta yang berhenti itu kan ga ada jendelanya. Jadi meskipun kita mau memberi mereka pun ga bisa. Hanya saja, saya prihatin melihat sikap mereka. Dari kecil sudah mengemis, mau jadi apa kalau besar nanti? Padahal, daerah disamping rel KA tempat kami berhenti bukanlah perkampungan kumuh, keadaannya ga jauh beda sama dengan perumahan yang bude saya tinggali. Dari penampilan anak-anak tersebut, saya juga bisa melihat mereka bukanlah anak-anak yang kekurangan, secara mereka terlihat modis dan cukup terawat, hanya saja ada beberapa anak yang berdandan dengan style yang bengal.

Lalu, apa motivasi mereka jadi peminta-minta?

Karena mereka ingin bisa jajan lebih banyak?

atau mereka benar-benar kekurangan?

Rasanya terlalu sok tahu bila saya yang menjawabnya. Tapi bila saya memaksakan diri saya menjadi orang yang sok tahu, melihat ekspresi wajah mereka, mereka meminta-minta hanya untuk kesenangan semata, bukan karena anak-anak tersebut hidup dalam kekurangan.

Bila teringat dengan anak-anak itu, pikiran saya kadang sering melayang pada serangkaian demo yang belakangan ini sering mewarnai perjalanan Indonesia. Sekalipun beberapa demo yang digelar saya akui patut dan selayaknya dilakukan, akan tetapi banyak juga demo-demo yang kadang saya rasa hanya mewakili sikap dan sifat ‘tidak mau susah’, ‘memuja nafsu’, ‘menyalahkan orang lain’ dan beberapa pola pikir yang tidak mutu lainnya.

Siapa sih yang ga mau hidup enak? Semua pasti ga ada yang nolak kalo ditawari bisa hidup enak dan serba kecukupan. Tapi apa bayarannya? Kerusakan alam, kerusakan moral, hedonisme, konsumerisme dan bencana finansial global. Bila sudah mengalami ga enaknya, apa mau kita merelakan kemudahan yang uda kita dapat dahulu? Kayanya kok banyak yang akan menolak yach πŸ™‚

Media di Indonesia juga seringkali hanya memuat berita yang memojokkan pemerintah. Mengedepankan kesusahan dari suatu wilayah. Pernahkah mereka meng-cross check mengapa wilayah tersebut mengalami kesusahan? Pernahkah mereka meneliti apa sudah benar cara dan prinsip hidup mereka? Mungkin orang luar seringkali juga tidak paham mengapa ada daerah yang tidak berkembang, tapi ikut menyalahkan pemerintah.

Bukannya saya membela pemerintah sih karena toh memang oknum di dalam pemerintahan masih menjadi PR bagi mereka yang seharusnya menegakkan hukum. Tapi akan lebih bijak bila dalam menghadapi permasalahan, kita tidak selalu mengedepankan sikap menyalahkan orang lain. Karena sikap tersebut hanya akan menjadi penghalang bagi diri kita untuk maju.

Jaman sekarang, banyak orang mengaku memperjuangkan keadilan, tapi ga ada keadilan di hati mereka. Banyak orang gencar menuntut profesionalisme, padahal ketika bekerja mereka sendiri ga profesional. Banyak orang menuntut kemudahan hidup, padahal seumur hidupnya jarang sekali mereka memudahkan hidup orang lain.

Para pejuang kita yang terdahulu sudah mengajarkan kita banyak hal. Mereka bisa menggambarkan ‘musuh’ yang mereka hadapi dengan sangat tepat. Dan pejuang kita mengorbankan harta, darah dan keringatnya untuk mengalahkan musuh tersebut, demi sebuah kehidupan yang lebih baik bagi orang banyak.

Bila dibandingkan dengan generasi sekarang, seringkali kita tidak pernah mendeskripsikan musuh kita secara tepat. Kita hanya memerangi sesuatu yang membuat hidup kita tidak nyaman, tanpa menelaah lebih dalam apa yang seharusnya kita lakukan di hidup kita. Satu musuh dikalahkan hanya untuk membesarkan musuh yang lain. Setidaknya dari kacamata saya, seperti itu yang terjadi di negara kita.

Kata-kata bijak yang berbunyi “musuh terbesarmu adalah dirimu sendiri” seharusnya kita pahami dalam-dalam. Yach, karena diri ini yang berkarya di dunia. Entah buruk ataupun baik karya kita, itu semua bergantung apakah diri ini bisa melanjutkan karya Tuhan atau malah merusaknya.

Ingin hidup enak dan bahagia? Berarti kita harus menindas dan membunuh kemalasan dan kebodohan kita. Jernihkan pandangan kita, asah kemampuan diri, tentukan cita-cita yang luhur dan perjuangkan harapan tersebut. Anggaplah semua cobaan di hidup kita adalah sarana untuk membuat diri kita lebih baik, bukan untuk membuat jiwa kita rapuh, tertindih dan hancur.

Jangan hanya bisa memandang ke atas, dan merasakan betapa menyedihkannya kita yang masih berada di bawah. Pandanglah suatu titik di atas, dan segera cari jalan untuk naik ke sana. Panjatlah batu-batu yang bisa membawamu ke atas, sekalipun tanganmu harus terluka dan berdarah. Jika itu bisa membawamu ke atas. Ke tempat yang engkau lihat indah dan menyejukkan hatimu.

Sebagai blogger, saya hanya bisa berbicara lewat tulisan, ngeblog adalah perantaraan karya saya. Sebagai seorang manusia tentu masih banyak yang bisa kita lakukan. Jangan menunggu kita menjadi hebat untuk membantu orang lain, untuk berjuang demi kehidupan yang lebih baik. Saat untuk berjuang adalah sekarang, berjuang melawan musuh sejati kita πŸ˜‰

Tidak ada harapan yang patut saya sampaikan kepada para sahabat sekalian kecuali

“Andai saja bangsa Indonesia bisa kembali menjadi bangsa pejuang”.

Demi kemajuan Indonesiaku tercinta πŸ™‚

CategoriesUncategorized

30 Replies to “Andai Bangsa Indonesia Bisa Kembali Menjadi Bangsa Pejuang”

  1. Haha ternyata effect proffesor bervirus itu kena kang ipung juga yah…
    eh ini postingan andai yah
    ***Lagak O-on mode ON
    wkwkwk

    ======
    Jawaban Gnupi
    Iya.. kena dengan amat sangat parah.. bener-bener lengah saya (H)

    Iya.. ini postingan andainya. Emailnya uda nyampe kan?

    *ikutan O-on mode*

    ======

  2. sebagai manusia, biasanya kita hanya melihat sesuatu hanya dari satu sudut pandang.
    jarang sekali kita melihatnya dari berbagai sudut.

    oh, ya mas, ini blog baru saya.
    belajar ngeblog lebih proffesional gitu.
    kunjung ya

    ======
    Jawaban Gnupi
    Maka dari itu, kadang saya menginginkan media harian, sebagai sumber informasi yang terjangkau bisa memberikan pandangan yang jelas dan dari berbagai sudut. Biar pembacanya ga melulu dijejali pemikiran yang mengedepankan untuk menyalahkan pihak tertentu.

    Oke. Jadwal blogwalking malam ini keblognya yang baru hehehe πŸ™‚

    =======

  3. Ya semoga saja Indonesia menjadi lebih baik.

    Btw, tambah banyak saingannya dan berat2 semua wekekek

    =====
    Jawaban Gnupi
    Amin. Semoga saja ya mas πŸ˜‰

    Hehehe.. saya emang saingan berat mas.. soalnya badan saya gemuk hehehe :p

    =====

  4. Banyak orang menuntut kemudahan hidup, padahal seumur hidupnya jarang sekali mereka memudahkan hidup orang lain.

    nah ini dia, bantulah orang sebisanya. Tapi bantulah orang yang tepat (H)

    =====
    Jawaban Gnupi
    Harus tepat dong. Karena bantuan pada orang yang tidak tepat hanya akan menyusahkan orang lain yang lebih berhak πŸ˜€

    =====

  5. Wah keren mas, tulisan yang membuat saya jadi refleksi balik.

    …banyak orang mengaku memperjuangkan keadilan, tapi ga ada keadilan di hati mereka. Banyak orang gencar menuntut profesionalisme, padahal ketika bekerja mereka sendiri ga profesional. Banyak orang menuntut kemudahan hidup, padahal seumur hidupnya jarang sekali mereka memudahkan hidup orang lain.

    Salut saya! Semoga renungan ini bisa membantu saya menjadi manusia yang lebih baik tahun ini, dan smoga muncul juga pejuang-pejuang modern dari bangsa ini.

    ======
    Jawaban Gnupi
    Salam kenal juga (b)

    Amin.. Semoga kita semua bisa berjuang untuk sesuatu yang luhur dan hidup kita bermanfaat bagi sesama πŸ˜‰

    ======

    Dan semoga saya bisa jadi salah satunya. Hehe πŸ˜‰ Salam kenal mas…

  6. wow tulisan ini sip deh (Y)

    bener, saya setuju bila setiap manusia indonesia kembali lagi menjadi pejuang, tapi kali ini sebagai pejuang untuk maju yang dengan gagah berani bekerja membuat hidupnya menjadi lebih baik (dengan cara yang halal tentunya) (F)

    ======
    Jawaban Gnupi
    Maksud saya juga pejuang yang seperti itu mas Yudi πŸ˜€

    ======

  7. Postingan panjang yg menginspirasi.. Ayoo kita berjuang lewat ngeblog. TujuanNa biar bsa mandiri..

    ======
    Jawaban Gnupi
    Setuju. Bisa mencapai kemandirian adalah modal awal untuk bisa menolong sesama πŸ™‚

    ======

  8. Mental/semangat juang orang dulu dengan sekarang memang sangat beda. Orang dulu lebih bermental baja dari orang sekarang (walaupun gak semua sih..).

    =====
    Jawaban Gnupi
    Dahulu, banyak hal yang memaksa mereka bermental baja, kalo engga, mereka bisa tergerus kehidupan secara langsung. Sedangkan jaman sekarang, banyak orang meracuni mental orang lain demi keuntungan pribadi yang ga seberapa dengan efek negatif yang mereka ciptakan. Dan efek dari lembeknya mental orang sekarang tidak berefek secara langsung pada kehidupan mereka layaknya dulu.
    =====

  9. Ayoo kita berjuang lewat ngeblog.

    =====
    Jawaban Gnupi
    Ngeblog memang bisa dijadikan sarana perjuangan. Tapi tetep harus berjuang offline juga yach πŸ˜‰

    =====

  10. memiliki sifat pejuang patut kita tanamkan pada diri kita, tanpa kenal menyerah, berusaha keras , saling menolong.sungguh sangat menganggumkan memiliki sifat itu… πŸ™‚

    =====
    Jawaban Gnupi
    Iya mas.. jalan sama-sama yach.. saling mengingatkan πŸ™‚

    =====

  11. content elo bagus2 yah (F)
    (I) g jadi banyak ide πŸ˜€

    =====
    Jawaban Gnupi
    Terima kasih supportnya πŸ™‚

    Wah… jadi banyak ide yach.. ditunggu deh artikel2nya.. πŸ˜‰

    =====

  12. mudah-mudahan kontesnya menang ya Mas,….
    iya nihhh panjang banget postingnya….; tipe refleksi jadinya panjang, biar tuntas…

    ======
    Jawaban Gnupi
    Alhamdulillah, ada yang ngedoain πŸ™‚

    Terima kasih Kang Nawar.

    Iya nih, jarang-jarang yach saya posting sepanjang ini, tuntutan temanya emang yang ga bisa dibikin pendek πŸ™‚

    =======

  13. itulah manusia dan inilah hidup itu mas πŸ˜€

    ======
    Jawaban Gnupi
    Kalo saya setuju dengan pendapat di atas, berarti manusia ga punya harapan dong πŸ™‚

    Makanya saya ndak mau meng-amin-i pendapat seperti itu πŸ™‚

    ======

  14. Postingannya bagus mas,bisa jadi motivasi nih…xixixi πŸ˜›

    ======
    Jawaban Gnupi
    Motivasi untuk kita bersama lah.. jalan kita juga masih panjang untuk bisa membuktikan ke-pejuang-an kita πŸ˜‰

    ======

  15. Pengen hidup enak itu emang butuh perjuangan.. hhehehehhe…

    =====
    Jawaban Gnupi
    Iya mas… Selamat berjuang di Bali ya mas Leo πŸ˜‰

    Ditunggu kiriman oleh-olehnya πŸ™‚

    =====

  16. bener banget nih tulisan,

    kenapa selalu cari siapa yang salah,

    trus cerita orang tua, sama lah.. orang tua saya juga kalau cerita masa kecilnya, gak ada yang dekat dengan apa yang kita anggap “nyaman” sekarang ini. tapi sukses koq mereka, dekat lagi antara anggota keluarga.

    sepertinya menjalani susah bareng-bareng lebih membuahkan hasil, daripada mau hidup enak sendiri-sendiri.. main sikkut semua jadinya. kalau masalah, tunjuk-tunjuk.. saya salut buat orang-orang yang mau memulai dari dirinya sendiri untuk menjalani hidup a la pejuang πŸ˜‰

    =====
    Jawaban Gnupi
    Wah.. closingnya asik tuh.. Ayo kita mulai bersama πŸ™‚

    =====

  17. iya pung, musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri… eh iya, aku ada cerita horor neh soal benteng william di ungaran… hiiii

    =====
    Jawaban Gnupi
    Wah.. saya pernah lewat sana ga yach? Jadi merinding kalo mau ke ungaran sendirian hahaha πŸ™‚

    =====

  18. Pengemis kecil itu juga berjuang mencari makan, nasib yang membawa dia lahir sebagai orang yang hidup “berkekurangan”

    Nasib juga yang membawa kita hidup di Indonesia yang tidak mampu mengurusi rakyat yang miskin.

    Yang menambah hancur Indonesia adalah orang-orang kaya, yang memikirkan dirinya sendiri, Berbeda dengan Pejuang kemerdekaan dahulu

    ======
    Jawaban Gnupi
    Disitulah masalahnya mas.
    Orang miskin dijadikan komoditas untuk meraih kekuasaan. Padahal, sebenernya mereka bukan butuh kesejahteraan semu. Tapi reformasi pola pikir. Itu yang belum diberikan penguasa kepada rakyat miskin yang jumlahnya lumayan banyak.

    Mengubah pola pikir itu susah? Sudah pasti, orang yang berpendidikan aja banyak yang ga mau mengamalkan ilmunya untuk maju, apalagi yang belum pernah mengenyam ilmu. Tapi kita ga bisa terus lari dari semua ini. Menyalahkan orang kaya ga akan bikin orang miskin bisa berdiri diatas kaki mereka sendiri. Kita perlu kesepahaman, pandangan yang jernih atas pola hidup saat ini. Begitulah pandangan artikel ini untuk komentar mas Atok πŸ™‚

    ======

  19. Wow…… bener banget deh….

    Untuk dapatkan yang kita mau, kita memang harus mau membayar untuk itu. Kebanyakan orang emang mentalnya pemalas,,, mungkin sudah takdir dari yang kuasa dan karena motivator di negeri ini kurang.

    Huheuheuheu….. jadi sedikit inget kata pak Tung. Satu karyawan, dapat gaji tiga klai lipat dari karyawan lain, karena bekerja lima kali lipat lebih keras. Namanya hidup enak emang seharusnya mahal.

    Setuju deh ama yang ditulis bang Ipung!

    Mengenai Indonesia sekarang dan dulu, menurut saya sama aja mas………

    Klo emang orang Indonesia berjiwa pejuang sejak dulu, Indonesia ga bakal di jajah. Ga bakal di adu domba. Orang hebat emang harusnya cuma ada beberapa. Klo ada banyak, orang hebat jadi kliatan biasa. Huheuehuehue…….

    Sekarang pun, ada orang hebat di Indonesia dan ada orang ga hebat. Well….. tak ada yang harus dijawab karena Indonesia dari dulu dan sekarang itu sama! Huehuheuehue……….

    Tapi, analoginya bagus sih, cuman kurang menyeluruh aja. Huehuheuehu…….

    ======
    Jawaban Gnupi
    Sedikit koreksi sejarah. Kita mulai dijajah saat indonesia masih terdiri atas banyak kerajaan-kerajaan kecil. Dan bangsa kita adalah bangsa yang ramah, jadi lengah ketika hendak dijajah. Saat itu, musuh kita adalah sebuah negara, yang mana sistem organisasinya lebih maju, teknologi juga lebih maju. Jadi karena itu kita bisa dijajah sedikit demi sedikit, diadu domba antar pihak yang berlawanan. Bukan karena bangsa Indonesia dulunya bukan bangsa pejuang πŸ™‚

    Kalo kita malas, jangan salahkan Tuhan, apalagi kalo sampai bilang itu karena motivator di negeri ini kurang. Kalo semua orang ditakdirkan malas, maka buat apa ada surga mas. Life is always a choice πŸ™‚

    Anggapan bahwa orang hebat jumlahnya harus sedikit agar terlihat hebat juga kurang tepat menurut saya. Karena alam ciptaan Tuhan ini terlalu luas sekalipun jumlah orang hebat bisa termultiplikasi hingga 1000kali jumlah orang hebat yang ada sekarang. Begitu mas πŸ™‚

    Orang jaman dulu tahu apa yang mereka kejar. Yang duduk di pemerintahan ya belajar pemerintahan, yang jadi kesatria ya serius belajar kanuragan, yang jadi empu, ya belajar metalurgi kuno. Yang jadi petani, ya belajar ilmu tanah dan tanaman. Nah, kalo sekarang, banyak orang belajar sesuatu tanpa tahu tujuannya. Seringkali kita mengeyam pendidikan tanpa tahu manfaatnya, tanpa tahu tujuan kita belajar, sekedar pengisi kegiatan atau mengejar status. Setidaknya itu pandangan saya yang sering berkumpul dengan teman saya yang sudah kuliah πŸ™‚

    Hidup enak juga ga harus mahal mas. Tinggal bisa atau tidak kita menundukkan nafsu yang kadang menterjemahkan ‘enak’ dengan sesuatu yang sifatnya berlebihan πŸ™‚

    Anyway.. keren euy mas Alam ini. Sepertinya rajin baca buku pengembangan diri πŸ™‚

    ======

  20. Di zaman sekarang ini yang dibutuhkan memang mental-mental pejuang untuk mengangkat harkat bangsa secara keseluruhan. Mental pejuang yang mau memberikan karya nyata, berani berkorban, berani bertindak karena benar dan tidak ingin ditindas, tidak mengenal pamrih dll.

    Dan perkara merubah mental bangsa Indonesia agar menjadi bangsa pejuang pun bukan perkara yang mudah tentunya :D. Mulailah dengan diri kita sendiri jika kita ingin merubah dunia ini πŸ™‚

  21. Huheuheue…… makasih atas pujiannya…. ih, jadi malu ku… (ada emoticon blushing ga disini??)

    Hmm…… klo yang masalah takdir itu mas, sebenernya bukan malas yang dijadikan takdir oleh sang Kuasa. Tapi takdir bahwa manusia itu persentasenya ya seperti itu, ada yang baik, ada yang jahat. Hidup emang pilihan, tapi kadang agak sulit untuk memilih pilihan secara sadar. Jika Tuhan mau, mas tahu kan kalo Tuhan bisa jadikan semuanya jadi hebat…….

    Nah, Tuhan emang ga mau dan membiarkannya. Sementara, ada beberapa yang diberi hidayahnya dan ditaruh di lingkungan positif dan ada beberapa yang ditaruh di lingkungan negatif.

    Well, hidup itu pilihan, pilihan dipilih secara sadar oleh otak atau kepribadian. Jika pribadi kita dibentuk di tengah lingkungan yang path arang, patah semangat, meski mungkin, sulit mas untuk jadi orang hebat. Direktur maspion perkecualian, karena meski lingkungannya di tengah orang2 yang mungkin agak pesisimis, tapi dia emang mimpinya besar dan bapaknya serta kondisinya memaksa dia untuk jadi seperti itu.

    Malas bukan takdir mas, tapi hal-hal yang menyebabkan manusia terkadang jadi malas itu yg takdir, kek lingkungan yang ga mendidik, ortu yang juga pesimis dan terlalu sering bilang ‘tidak’, dan lain-lain. Tapi, aslinya itu bukan buat menjadikan orang malas. Itu ujian dari Tuhan, hanya saja, tak semua orang bisa menghadapai ujian dari Nya. Huehuheue……..

    Mengenai yang orang Indonesia dulu dan sekarang, saya setuju mas Ipung. Hu-uh….. mas lebih tau karena mas dah lebih berpengalaman dari pernyataan mas mengenai teman2 mas di kuliah. Huheuheue…… mengejar status tanpa ada tujuan yah? Yups… bener bgt mas…….

    Cuman ada satu yang ngganjel nih mas. Indonesia itu, setelah di jajah, ia tetap di jajah selama 350 tahun. Dan, kita baru merdeka setelah ada orang-orang spesial seperti bung Karno, Moh. Yamin, Sukarni, dan lain-lain. Pada akhirnya, semua orang berjuang mempertahankan Indonesia (10 November), tapi itu tak lepas dari Bung Tomo (orang hebat) dengan suara menggelelegar (motivator) iya kan? Tanpa motivasinya, hueheuhue…… sebenernya saya kurang yakin klo Indonesia menang lawan Sekutu waktu itu.

    Nah, kita emang pejuang. Tapi, tak banyak yang pikirannya kurang sehingga sering terjadi perang saudara di Indonesia. Perang kan penyebabnya bisa dari rajanya yang ga becus, ato rakyatnya yang terus merasa kurang…. heuheuehue…….

    Fiuh.. seru deh ngomong panjang lebar ama mas Ipung… heuheuehue………..

    =======
    Jawaban Gnupi
    hahaha.. ini jadi kaya guest blogging.. Alam memang Pintar, terima kasih yach πŸ˜€

    Koreksi sejarah lagi mas. Kita 350 tahun dijajah karena perjuangan kita masih bersifat kedaerahan. Nah, ketika kita merdeka, saat itu kita sudah bersatu. Dan.. kenapa tiba-tiba muncul orang-orang hebat di Indonesia, itu adalah hasil dari politik etis yang memungkinkan beberapa putra bangsa kita untuk mengenyam pendidikan, bahkan ada yang sampai di Belanda. Jadi di Indonesia muncul orang pintar dan berwawasan. Seseorang yang bisa melihat sebuah bentuk negara yang bisa dibangun di atas tanah nenek moyang yang saat itu masih terjajah, dan mengkomunikasikan bentuk konkret “kebenaran” yang pantas untuk diperjuangakan dengan penuh pengorbanan, sehingga banyak orang mau ikut berjuang. Jadi, kuncinya saat itu selain dari leadership yang tinggi dari tokoh-tokoh kita adalah pendidikan. Kira-kira begitu jawabannya.

    Soal takdir Tuhan atas prosentasenya mas. Sekali lagi saya tolak. Hal yang paling dekat adalah bahwa Tuhan menakdirkan sebuah jalan penuh duri bagi mereka yang mau menjadi hebat. Duri Tuhan bukan sembarang duri, tapi duri yang akan menempa mereka menjadi hebat, menjadi pribadi yang solusif dan konstruktif. Nah.. saat ini, sedikit sekali yang mau menempuh jalan itu, karena terlena dengan bentuk mimpi dan pola pikir lain yang lebih ‘menggoda’, yang terlihat menyenangkan padahal membawa mereka pada kehancuran. Dan godaan yang saya sebutkan di atas, adalah lebih besar di jaman sekarang daripada masa lalu. Bagi orang dulu, mungkin duri Tuhan tidak terlihat begitu menakutkan, karena yang tersedia disamping jalan berduri itu hanyalah jerami dengan sedikit tangkai-tangkai yang menusuk… tapi bagi orang sekarang, duri Tuhan begitu menakutkan, karena ada sofa empuk beracun adiktif yang bisa kita tiduri. Begitu menurut saya..

    Wahaha.. artikel ini uda panjang, komentarnya juga panjang.. Sip.. sip :p

    ======

  22. SiiP…….
    Dimulai dari angka Nol Ya.. pak… hehehe
    yok… kita mulai membangkitkan darah pejuang dari leluhur kita….
    (L) Darah itu masih mengalir dalam diri kita lho mas….

    =====
    Jawaban Gnupi
    hehehe. iya.. semoga darah pejuang rakyat Indonesia bisa kembali dipanaskan yach πŸ˜€

    =====

  23. Hueuheuehuehue…………. ku datang lagi….. hihihihi……

    Pada akhirnya adalah, “Andai Bangsa Indonesia Bisa Kembali Menjadi Bangsa Pejuang”

    Hihihiiiii……. saya pada akhirnya setuju dengan yang paragraf terakhir dari mas. Ujian sekarang lebih berat. Comfort Zonenya lebih mematikan. Huheuheuheuhue……….

    Sebenernya, yang poin ke dua itu, ga jauh beda ama pernyataanku, huehuehue……..

    “Malas bukan takdir mas, tapi hal-hal yang menyebabkan manusia terkadang jadi malas itu yg takdir, kek lingkungan yang ga mendidik, ortu yang juga pesimis dan terlalu sering bilang β€˜tidak’, dan lain-lain. Tapi, aslinya itu bukan buat menjadikan orang malas. Itu ujian dari Tuhan, hanya saja, tak semua orang bisa menghadapai ujian dari Nya. Huehuheue……..” Ini seperti yang masalah duri-berduri yang mas utarakan. Huehuehueu…… Lingkungan tak mendidik kan lebih kentara sekarang daripada dulu yang cenderung derajat tiap orangnya lebih sama (kaya dan miskinnya ga begitu kentara)…..

    Fiuh…. pada akhirnya, saya puas dengan jawaban mas. Sepertinya mengenai sejarah, mas lebih banyak tahu. Huehuehue……. pada akhirnya, saya mangut-manggut kagum dengan yang mas utarakan.

    Wah, kita bisa jadi teman baik mas…. πŸ˜€ Mari kita mulai dengan tukeran link jika di sini ada tempat untuk tukeran link. Saya ga mau ngelewatin blog keren ini di daftar linkku. Huehuehue……..

    ======
    Jawaban Gnupi
    hehehe.. biasanya penganut aliran motivasi kaya mas Alam paling ga mau menyalahkan keadaan apalagi takdir πŸ˜€

    Fiuh.. akhirnya perdebatan bisa selesai hahaha πŸ˜€

    Oke, linknya sudah saya tambahkan di halaman Sahabat SEO Bloggers πŸ˜€

    ======

  24. baca articlenya ajaah dah panjang…dah gitu, tertarik baca domment2nya…yang lagi2 juga panjang2…tapi menarik, jadinya ya tetep ajaah dibaca….mpe akhirnya….bingung ndiri mo kasih comment…hehehe….ya say setuju ama nich dan beberapa temen2 laen…kita mulai dari diri ndiri…menjadi lebih baik, dan bisa membantu orang laen dengan lebih baik juga…berani ga benerin diri ndiri dulu? (sukanya sok benerin orang laen ..hehehe..)

    ======
    Jawaban Gnupi
    iya mulai dari sendiri emang jalan satu-satunya.. sebelum kita sendiri berada pada kondisi yang ‘kokoh’ emang susah menggoyangkan prinsip negatif orang lain πŸ˜‰

    ======

  25. sepertinya kita ga bisa menyalahkan dari satu sisi aja, karena semuanya saling berkaitan, baik itu pemerintah, masyarakat, diri kita sendiri….Mulailah dari diri sendiri πŸ˜‰

    ======
    Jawaban Gnupi
    Berarti media di Indonesia rata-rata salah yach dalam mendidik pembacanya.. kayanya pemerintah ga pernah bener πŸ˜€

    jadinya rakyat selalu dijejali kepesimisan karena sering diajakkkan menumpahkan kesalahan pada pihak lain πŸ™‚

    ======

  26. wuih, dalem banget nih tulisannya.
    Sampe speechless saya dibuatnya. (Y)

    =====
    Jawaban Gnupi

    hihihi.. uda sedalam lautan belum ya mas Ecko :p

    sekedar mengekspresikan perasaan yang selama ini tertimbun di dalam hati mas Ecko πŸ™‚

    ======

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *