Antara Syekh Puji dan Pergaulan Remaja Jaman Sekarang

Setelah berkali-kali saya membuat banyak pengunjung bosan dengan artikel SEO saya, kali ini saya tidak akan berbicara tentang SEO atau mendapatkan uang dari blog, soalnya beberapa hari ini saya mau tidak mau dipaksa membaca informasi tentang kasus paedofilia Syekh Puji yang berniat menikahi gadis usia 12 tahun dengan alasan menjalankan sunnah Rasul.

Sebagai seorang muslim, saya tidak bisa mengharamkan sesuatu yang menurut Tuhan itu halal, karena itu sama saja dengan saya berlaku seolah saya itu Tuhan. Perkawinan dengan anak yang menurut pandangan modern berada di bawah umur semacam ini sudah sering terjadi di masa lalu, jauh sebelum jaman dimana Rasul hidup sekalipun. Namun, sebagai saudara sebangsa setanah air Indonesia tercinta (ceile) yang peduli dengan masalah ini, saya hanya ingin mengingatkan bagi mereka yang mengatakan bahwa ini 100% halal, agar mereka juga merujuk kepada hukum perkawinan Islam, yang mana salah satunya bersifat makruh (dibenci Allah SWT) dan haram. Sebagai referensi sedikit saya jelaskan di sini menurut literatur yang pernah saya baca:

Pernikahan bersifat makruh apabila seseorang telah mampu secara materi untuk menikah dan diperkirakan akan terjerumus ke dalam perbuatan zhalim terhadap istrinya jika ia menikah.

Pernikahan bersifat haram apabila seseorang tidak mampu secara materi dan dipastikan akan terjerumus ke dalam perbuatan zhalim terhadap istrinya.

Jadi, buat mereka yang mengatakan pernikahan ini 100% halal, pertanyaan yang saya tanyakan adalah:

“Bisakah anda menjamin bahwa Syekh Puji tidak akan zhalim terhadap Ulfa?”

Kalau saya membaca perjalanan hidup Syekh Puji di koran Kedaulatan Rakyat pagi ini sih, saya ga berani jamin Syekh Puji tidak akan berbuat zhalim. Dan titik, sampai di sini saja saya membahas Syekh Puji, males ngrasani orang lain 🙂

Masyarakat Indonesia juga cukup aneh menurut saya. Mereka dengan amat sangat keras sekali menentang pernikahan antara orang tua dengan anak di bawah umur. Tapi kadang saya merasa bahwa masyarakat Indonesia mulai bersikap longgar menghadapi pola pergaulan remaja saat ini, termasuk anak SD (yang harusnya masih imut-imut). Tahukah mereka bahwa banyak sekali anak SD yang uda paham cara membuka situs porno, dan mereka seringkali berfantasi bisa melakukan “kegiatan” itu? Nah, bila keadaan mengijinkan dan mereka sampai “melakukan” itu, maka yang membedakan hal tersebut dengan Syekh Puji hanyalah usia pelaku prianya 🙂

Salah satu contoh bakunya adalah, dengan terus larisnya sinetron bercerita sampah dan reality show menyesatkan di layar kaca negeri ini. Sinetron ini mengajarkan cara-cara berpacaran yang berlebihan (seperti mempermasalahkan betapa cupunya mereka kalo belum pernah ciuman pertama, takut n merasa terhina kalo jadi jomblo, dan kedekatan fisik dengan orang yang kita sukai), kekerasan antar teman, kelicikan & dominasi berlebihan beserta banyak hal negatif lainnya, apalagi reality show bertema asmara seringkali banyak mengumbar adegan mesra yang dilakukan oleh orang yang ceritanya baru berkenalan. Saya tahu, sudah banyak kalangan psikolog yang memprotes hal ini. Tapi toh sinetron dan reality show semacam itu tetep laris diproduksi. Pasalnya, masih banyak masyarakat Indonesia yang nonton dan ratingnya tetep tinggi, jadi banyak yang masang iklan di sinetron dan reality show itu.

Ini baru masalah televisi lho, sebenarnya majalah remaja juga cukup punya andil dalam merusak moral dan pergaulan remaja Indonesia, karena seringkali mereka juga memberi nilai-nilai hubungan cinta yang salah dan mengesampingkan faktor orang tua sebagai orang yang sudah membesarkan mereka. Jadi, bila masyarakat Indonesia benar peduli pada nasib anak bangsa, sebesar kepedulian mereka untuk mencaci Syekh Puji yang menikahi seorang bocah, mari kita berhenti mendukung media-media yang merusak moral.

Trus, jadi ga ada hiburan dong???!

Ya.. tinggal pilih mana, masa depan bangsa atau hiburan sesaat. Suatu saat nanti kita juga akan menjadi orang tua yang merasakan efeknya lho 😉

CategoriesUncategorized

49 Replies to “Antara Syekh Puji dan Pergaulan Remaja Jaman Sekarang”

  1. Setuju banget, tapi saya belum bisa menghapus sinetron dr rumah saya. Tiap hari saya kotbah tetap saja. huh.
    siaran paling mendidik ya cuman metrotv. dan di tvE.
    untuk syeh puji berpikirlah yang realistis saja. saya khawatir dia ikut aliran apa gitu. masak habis 11,9,7 ganjil semua kan?

  2. @Zulfahri
    Sayangnya saya nda bisa bahasa rumput nih 🙂

    Terima kasih sudah mampir (b)

    @andyQ
    kebetulan saya jarang nonton TV juga sejak banyak sinetron ga mutu bertebaran di stasiun ternama negeri ini.. Kalau ada yang ditonton paling pas mereka lagi ada yang muter serial luar negeri. Kalo engga, mendingan baca buku atau cari info di internet 🙂

  3. memang sekarang jaman maling teriak maling 🙁 padahal remaja jaman sekarang banyak yang melakukan seks bebas(zina). tapi kok di tv kayaknya syekh puji lebih hina dari pezina. tanya kenapa? (mungkin karena pers islam ngga’ ada kali ya…???)

  4. @Adwan
    itu poin penting yang perlu disikapi mas Adrian.. saya sampe inget dulu pak SBY sampe harus repot ngurusi Aa Gym berpoligami. Mungkin orang Indonesia seringkali takut terhadap lembaga yang sah (pernikahan) ketimbang perbuatan zina disekitar mereka.. padahal hari gini.. banyak tho disekitar mereka, dan mereka cenderung tutup mata (seperti saya hehehe) :p

  5. Tayangan2 sinetron saat ini yang menurut saya tayangan sampah dan tidak mendidik dan lambat laut akan menggerus dan melunturkan moral anak cucu kita kelak…
    Disatu sisi pihak penayang(pemilik film) mengutamakan rating, dengan rating yang tinggi maka akan banyak sponsor kalau sudah banyak sponsor uang pun mengalir dan disisi lain yang membuat saya sedih sebagaian besar masyarakat kita suka dengan tanyangan2 yg tidak mendidik tsb.sungguh sulit memang mencari jalan keluarnya…..
    Tapi pastilah jalan keluar itu ada…
    Dengan bertambahnya dan bertahanya tayangan2 tersebut akan menambah rasa bersalah orang tua terhadap anaknya….
    Apakah kita, anak kita, dan keluarga kita harus lari kehutan saja…… 😀

  6. Saya masih tetap pada Konsep tirulah rosul sepenuh nya jika ingin menggunakan rosul sebagai alasan kita melakukan itu. Sudahkah? Jika hanya setengah atau hanya seagian kecil kehidupan rosul yang kita pake dasar melakukan sesuatu tindakan… Pertanyaannya… adilkah kita? Atau… bukankah itu langkah pencarian alibi? Ataukah justru sunnah rosul udah nggak relevan lagi dengan jaman yang katanya modern ini? Semua pertnyaan konyol ini hanya bisa kita jawab pada masing2 individu.

  7. @kidefith
    Jalan keluar itu pastilah ada mas Dedik. Pertanyaannya adalah apakah kita mau keluar dari keadaan ini, atau kita cukup terpaku dan menerimanya sebagai efek kemajuan jaman?

    Satu hal yang saya pelajari ketika saya Kuliah Kerja Nyata. Bahwa kita tidak bisa menyamaratakan penduduk Indonesia secara keseluruhan, dengan kita yang mungkin sudah berpandangan sedikit lebih maju. Beberapa sineas kita beserta aktivis pendukungnya seringkali mengatakan bahwa upaya pemerintah membatasi konsumsi film “seperti itu” adalah sama dengan pemerintah memandang bangsa Indonesia itu bodoh.

    Padahal, dalam kenyataan yang saya lihat, kita memang tidak bisa menyamaratakan masyarakat. Apa yang bagi kita bisa kita saring sebagai sebuah “perilaku yang tidak baik” belum tentu dapat disaring oleh mereka yang tinggal ditempat lain.

    Jadi yang bodoh saya rasa adalah sineas kita yang terlalu mendambakan kebebasan melebihi sekat moral dan agama.. Yah.. biarlah nanti mereka pertanggungjawabkan tindakannya di hadapan pemilik hidup ini 🙂

  8. HOREE!! Hari ini kuliah SEO libuur..!!

    @ Syekh Puji : No comment ah. Takut salah..
    @ Sinetron : hiburan yg ini mmg sebaiknya dikaji ulang. Sy kok yakin, sebagian besar sinetron berpengaruh thd turunnya moral remaja kita.

  9. @tukang sapu radio
    Saya setuju dengan pendapatnya. Kalo mengikuti rasul sepenuhnya dalam lingkup negara, memang banyak yang perlu kita korbankan. Para pekerja tempat hiburan malam misalnya, mereka jadi ga punya kerjaan. Hal itu bukan berarti sunnah rasul sudah tidak relevan, tapi saya rasa masalahnya adalah orang-orang Indonesia pada umumnya secara tidak sadar mengikuti filosofi bahwa hidup untuk makan, dan bila moralitas ga memberi mereka makan, ya ga perlu dipikirin.

    Maka dari itu, dimulai dulu dari diri sendiri saja, baru melebar ke sekitar kita. Itu aja belum tentu mudah kok 🙂

    Maksud saya memulai introspeksi secara jujur untuk maju lho.. bukan memulai dari diri sendiri untuk menikahi bocah atau berpoligami :p

  10. @abbie
    seneng tho kalo libur.. ya uda, sebulan ini mau general blogging aja ah.. ga nyentuh SEO hehehe :p

    Dibahas berkali-kali juga kayanya ga mempan.. akhirnya keburukan sinetron hanya jadi wacana.. harga televisi juga sekarang bener-bener murah.. yang nonton acara ga mutu itu jadi lebih banyak dibanding dulu deh.. 🙁

  11. tadi nonton tv, katanya setelah ketemu Kak Seto, si Puji bakal mengurungkan niatnya menikahi Ulfa..
    kita liat aja..
    aku sih liat berita si Puji ini udah keburu hueeeekk….

  12. Hehehe, meskipun nembak tapi gak melupakan informasinya untuk pembaca, mas Harry. 😀

    Btw, saya rasa dengan kelakukannya yg seperti ini orang tsb gak perlu lagi atau malah gak pantes lagi memakai panggilan Syekh. Toh menurut media sebutan tersebut diminta sendiri oleh Pujiono kepada santri-santrinya. :((

  13. @tyas
    sama.. makanya saya cuma baca beritanya, ga mau nonton dia di TV.. kalo sampe huek lihat liputannya nanti saya jadi repot harus bersih-bersih lantai 🙂

    @BJD TTYH
    Itu juga pendapat para sineas, kata Dian Sastro, “Kalo saya jadi orang tua, maka akan saya bener-bener perhatikan apa yang mereka tonton”.

    Tapi itu kan Dian Sastro, sedangkan banyak rakyat Indonesia kedua orangtuanya harus bekerja diluar rumah agar anaknya bisa tetep makan dan sekolah. Apa Dian Sastro akan bisa mempertanggung jawabkan pendapatnya pada tipe keluarga yang seperti itu?

    Padahal menurut saya, Dian Sastro itu artis cantik, cerdas, berbakat dan berprinsip, tapi untuk pernyataannya yang satu itu, saya hanya bisa bilang “Lihatlah lebih dekat”

  14. @persikers
    saya bukan lagi nembak 100% lho.. Saya bener-bener lagi berbagi cerita dan uneg2 mas Harry 😀

    @Ecko
    Iya.. kelakuan seperti itu yang dilakukan orang berpenampilan dan dipanggil seperti itu kok mengesankan kalo uda jadi kyai atau dipanggil Syekh, jadi suka aneh-aneh kaya poligami dan sebagainya.. Karena Islam memperbolehkan..

    padahal “adil” adalah syarat dari poligami, dan ada ayat Al-Qur’an yang menyatakan bahwa sekalipun kita berusaha sekuat tenaga pun, kita tidak akan bisa adil 100%.

    Harusnya mereka mendalami filosofi adil terlebih dahulu, baru mikir-mikir mau berpoligami ataupun menikahi anak yang masih sangat belia..

  15. kalau menurut ai itu sih bukan mengikuti sunnah namanya, tapi memang syekh puji itu punya kelainan seks. ai pernah dengar bahwa orang yg seksnya cenderung kepada anak2 itu merupakan salah satu kelainan seks (bener g ya…???) :-S

  16. saya juga males loh ngerasani orang, karena ga begitu paham kepercayaannya bagaimana.

    tapi tentang acara tipi itu 100% sangat bingung, apa sih untungnya nayangin acara gitu selaen memperkaya produser dan pemainnya. manfaatnya? saya kira ga ada. apa bagusnya mempertontonkan sikap saling menjelek-jelekkan seperti yang di sinetron2 itu, memamerkan kekayaan, mengumpat dengan kata2 kasar, dsb. waduh rusak deh (N)

  17. @ai
    hmm.. soal Syekh Puji punya kelainan kecenderungan seksual atau engga saya sih belum tahu, karena ga kenal dekat dengan Syekh Puji hehehe 😀

    Tapi emang iya, kecenderungan seksual terhadap anak kecil memang sebuah kelainan. Karena kok bisa merasa nafsu sama anak kecil.. padahal yang uda dewasa dan matang kan banyak ya 😀

    @yudi
    Iya mas Yudi. Anehnya, produsernya seringkali bangga bisa menampilkan cerita yang unik (menurut mereka)kepada penontonnya..

    Kalo menurut saya, tontonan unik itu Heroes, Supernatural, Thru Calling.. bukan cinta yang berlebihan tanpa mengenal sekat dan kekejaman+kelicikan seperti yang di sinetron itu 😀

  18. ah ia nih liat juga di tivi tentang ini
    katanya karena orang tuanya tersangkut hutang
    *apa ada hubungannya ya sama hutang?*

    aneh memang 😉

  19. no comment untuk sang syekh, saya komen sinetron dan televisi aja deh 🙂

    Kita sering banget berbicara keras tentang sinetron kita yang memang bikin muak. Tapi kita tahu di Indonesia ini televisi swasta hanya dibiayai oleh iklan. Kita gratis menonton semua saluran tersebut.

    dan konsekwensinya televisi harus menjaring sebanyak mungkin iklan. salah satu caranya dengan menayangkan sinetron2 macam itu.

    Ini murni bisnis, mereka menayangkan sinetron karena itulah yang laku disajikan ke pemirsa, dan pengiklan pada dasarnya ndak mau tahu acaranya apa, yang penting banyak yang nonton.

    Kalau sinetron macam itu tidak laku, mereka akan berhenti sendiri kok sebenarnya, dan berganti haluan mencari format acara yang lain, misal kontes2an macam AFI dulu.

    Kita ndak bisa hanya menyalahkan pelaku sinetron dan televisi penayangnya. Mereka ada karena adanya pasar, kita para pemirsa. Apapun yang televisi tayangkan, itu adalah respon terhadap perilaku kita sebagai pemirsa.

    Tugas orang tua, pendidik, masyarakat, (blogger?) yang harusnya mendidik kita dalam menonton televisi.

    so, bagaimana kalau kita kampanyekan gerakan anti nonton sinetron? 🙂

    ini hanya opini saya saja mas ipung, sudah pasti banyak salahnya.

  20. @izandi
    kalo menyangkut hutang, sama aja ngejual anak dong jadinya ;(

    @ekkei
    Agak miris dengan pernyataan yang mendekati kenyataan:

    “Tugas orang tua, pendidik, masyarakat, (blogger?) yang harusnya mendidik kita dalam menonton televisi.”

    Untuk cuci tangan aja perlu ada gerakan khusus, sekarang nonton televisi aja perlu diajarin. Indonesia ini mau dibawa ke mana ya.. kayanya repot bener, apa-apa harus diajari 🙂

    Kalo kita kampanye anti nonton sinetron. Berarti harus ada gerakan anti nonton sinetron yang ga cuma seminggu atau sebulan, tapi minimal 6 bulan. Baru deh, gairah pasar iklan di sinetron bisa pudar. Masalahnya, masyarakat Indonesia ntar keburu kangen lihat bintang sinetron yang macho+ganteng dan cantik+seksi idola mereka :p

    Sebetulnya.. masyarakat Indonesia ga gitu-gitu amat kok.. Buktinya, Para Pencari Tuhan tergolong sukses. Intinya, asal produsernya ga pake teknik marketing kapitalis, pasti masyarakat Indonesia bisa tetep terhibur dan iklan di televisi tetep jalan 😀

    Anyway.. boleh deh. Ayo bikin gerakan anti nonton sinetron ga mendidik 😉

  21. @yos
    jangan didengerin apanya ya?

    Tapi saya setuju, Dosa, Korupsi dan Prostitusi memang layak untuk diperhatikan.. karena perkembangannya sudah cukup mengkhawatirkan ;(

  22. @trainer esq 165
    Kalo ga mau komentar berarti cuma numpang iklan dong :-[

    @tyas
    terima kasih kembali mbak Tyas 🙂
    Komentar saya yang itu didelete aja mbak. Mbok saya dibilang keminter nanti.

  23. ketauan banget tuh motivasinya cuman ekonomi semata. ortunya bole mengelak, tapi masyarakat kan ga bisa dibodohi.. btw, katanya pernikahan ini udah dibatalin ..

  24. @ika
    Bisa jadi.. hari ini masih ada foto Syekh Puji sama Ulfa berdua di Koran KR 😀
    Ternyata Ulfa-nya lumayan manis.. pantes Syekh Puji “tertarik” hehehe 😀

  25. Yang aku bingung, kok pada heboh yah tentang si puji ini 😀 xixixix, liat si puji kemarin ajah di tv ku gak sreg ( maklum ku bukan homo ) maksudnya : gak sreg liat dia kalungin tasbih ajah, kayak gimana gituhhh…!! padahal arti sesungguhnya SYEIKH itu di arab adalah guru.

    Bukan orang yang hebat,…..!! apalagi di indonesia dengan label guru adalah orang yang menderita 😀

  26. 🙂 posting yang sangat bijaksana. kadang memang kita jadi harus waspada dan bisa membedakan mana yang benar mana yang salah, karena kadang2 yang salah dianggap benar yang benar jadi seakan2 salah…

    Hmm btw… salam kenal mas ipung…

  27. @san
    spam detected 🙂

    @MedanBlogger
    Hmm.. saya sih ga ngefek beliau mau pake Syekh atau engga. Pepatah bijak mengatakan
    “Lihatlah apa yang dibicarakan, bukan siapa yang berbicara”

    Hmm.. Indonesia memang uda gini sekarang.. bingung mau nyalahin siapa.. mending berbenah diri aja 😀

    @Nitta
    Yup2.. memiliki knowledge yang cukup n judgement yang tepat memang mutlak diperlukan di jaman yang uda upside down kaya sekarang…

    Yang penting kita punya cermin diri yang jernih untuk introspeksi dan terus berkembang lebih baik 😀

    Salam kenal juga Bu Nitta 😀

  28. @mama ago
    Wah iya ya.. di koran kemaren sih, bapaknya bilang
    “Buat yang tidak setuju dengan pernikahan ini, tolong jangan hanya bicara saja, tapi pikirkan bagaimana nasib Ulfa bila tidak jadi dinikahi”..

  29. kalau mau niru rasulullah salallahu ‘alaihi wassalam ya harus tau dulu sunnahnya gimana. Walaupun rasul menikahi aisyah dalam usia 6 tahun, tapi bukan berarti rasul memerintahkan umatnya untuk demikian juga. Memang tidak ada larangan untuk menikahi orang yang usianya masih muda banget, tapi kan juga tidak diperintahkan. Yang penting dalam pernikahan bisa saling mengerti,jadi mending pilih yang sudah dewasa.

  30. @EEng
    Betul-betul.. masalahnya mengikuti Sunnah Rasul secara fisik seperti punya istri empat ato cari istri muda itu lebih mudah daripada menyelami Sunnah Rasul secara batiniah, dimana beliau selalu berusaha menjaga kebersihan hatinya dan lurus di agama Allah SWT dalam bertindak, berpikir dan bersikap 😀

    It’s our problem here.. Maybe what we need is a lot of good real time examples 😀

  31. menurut saya pernikahan yang di lakukan itu pasti karena paksaan…
    aiaiaiai kasihan banget deh…
    wanita memang mau bagai mana pun tetap berada di no 2
    tapi kita sebagai perempuan gag boleh lemah dan tutupi lah aurat mu…
    karena dengan begitu berarti engkau adalah wanita yang tegas menujukan bahwa kita bukan milik semua orang…
    kita hanya milik sang pencipta dan lelaki yang benar2 kita pilih…

  32. @kristi
    Good Words. Saya setuju banget dengan pendapat seperti itu. Menutup aurat bukanlah suatu pembatasan ekspresi kaum wanita, tapi lebih sebagai self respect. Namun, hal seperti itu emang tidak bisa dipaksakan, tergantung terhadap self value yang dipegang tiap individu 😉

    @L2ydia
    Setuju apa nih? setuju dengan pernikahan Syekh Puji dan Ulfa 🙂

  33. ya ampun……… jaman sekarang emank udah g bisa di tebak lg ya!!!!!!!!!!1

    jaman dah makin edan…… :-O
    masa kakek2 nikah ama anak kecik…..
    aku turut prihatin atas kasus ini :-[ . matanya ulfa buta kali y??????// (N) 🙁 :-O :-S :-$

  34. maca cee!!!!!!!!!!!!!!! ga punya hati ya tu orang gila apa? mau nikahin cewek da bawah 17 tahun :-O
    (N) (N) (N) (N) (N)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *