Karena Blogger itu Manusia

Blogger juga manusia

Tanpa bermaksud meniru judul salah satu lagu band Serieus, tiga patah kata pembuka di atas adalah salah satu hal yang kadang dilupakan oleh para blogger. Sejak Raditya Dika naik daun dengan buku yang merupakan kompilasi dari blognya, banyak teman saya yang terinspirasi untuk membuat blog dengan gaya penulisan uncensored words dan agak hiperbola seperti seleblog tersebut. Mohon fansnya jangan naik pitam dulu, jujur saja saya juga kadang terhibur dengan artikel-artikel di blog miliknya. Karena setiap orang pasti punya sisi gila yang kadang terkunci di dalam dirinya, dan Raditya Dika punya cara unik dan kreatif untuk membuka gembok tersebut ketika kita membacanya posting-postingnya (y)

Namun, seringkali kita yang mencontoh (bila tidak mau dibilang meniru) agak gagal dalam memberi ‘keseimbangan’ dalam banyolan di artikel kita yang akhirnya membuat orang lain menjadi ‘muak’ membaca postingan kita yang agak hiperbola. Salah satu blog yang sering saya kunjungi juga sepertinya ada yang memilih cara penulisan seperti itu. Hal itu membuat artikel-artikel di blognya menjadi sangat panjang, namun dangkal secara isi dan makna. Sekali lagi, hal itu adalah pilihan pribadi dan pada intinya blog itu milik blogger tersebut, jadi mau diisi apa aja itu terserah mereka dan kita hanya dihadapkan pada pilihan membaca atau tidak membaca blog mereka. Jadi ga perlu komplain πŸ™‚

Saya juga banyak belajar ketika sahabat blogger saya (maaf ya mas tak aku-aku sahabat) mengalami polemik kesalahpahaman ketika beliau mereview salah satu blog yang gaya penulisan di blognya agak ‘lepas’ dan ‘mbanyol’, dan review blog yang di buat sahabat saya tersebut ditulis dengan gaya yang serupa. Hal itu ternyata membangkitkan sisi manusiawi sang blogger yang direview dan menangkapnya dengan maksud yang lain, sekalipun blogger yang direview berusaha menyikapinya dengan amat sangat bijak.

Dari pelajaran tersebut, saya jadi merasa perlu mengingatkan diri saya sendiri, bahwa seperti yang saya tulis dalam Cara Membuat Artikel Blog, usahakan untuk membuat candaan di blog anda mudah dipahami ketika mereka selesai membaca artikel anda. Jadilah diri anda sendiri, dan usahakan selalu untuk menjadikan diri anda pribadi yang lebih baik setiap harinya. Untuk jadi blogger terkenal ga harus meniru seleblog lainnya kok.

Saat ini, sekalipun sang Panda sudah mengaku Nakal, tapi sang Panda sudah terlanjur didakwa menancapkan paku ke papan (hati) seorang blogger. Ayo.. kita carikan obat buat blogger yang sudah tertancap paku tersebut hehehe πŸ™‚

NB: Saya tidak mengkaitkan mas Zalukhu dengan blogger yang meniru Raditya Dika (paragraf 1), ataupun blogger yang hiperbola(paragraf 2). Link yang diberikan ke mas Zalukhu adalah balasan saya yang uda berkali-kali di ping-pong oleh beliau. Makasi ya Mas πŸ™‚ Link ke blogger yang direview sengaja tidak saya berikan, saya takut ada bahasa saya yang salah dan malah menyinggung blogger tersebut.

CategoriesUncategorized

60 Replies to “Karena Blogger itu Manusia”

  1. horeeee blogger yang tulisannya jayus itu mungkin saya :-$

    tapi sebelum baca buku si dika kambing jantan, sebenernya saya memang rada ngawur kalo nulis dari dulu, terutama pas nge-email temen. ga da maksud niru. maaf bang dika atau siapapun yang mungkin resah ngeliat tulisan saya yang amburadul itu. hanya pengen berbagi πŸ˜€

  2. Asyik di link balik heheh.. Iya mas Pung, sekarang saya baru ngerti bahwa tidak semua blogger gokil yang di blognya gokil banget mampun menerima kenyataan jika dia digokilin. Ya mungkin aga sadis sih hehehe, but dari situ saya bisa tahu mana blogger gokil yang sesungguhnya, dan mana blogger gokil yang hanya “gokil-gokilan”. Tapi pung saya tidak mau mencabut paku itu, karena seharusnya memang di papan itu harus ada satu paku biar papannya tidak menjadi papan keras yang membatu.. walaahhh lho ko ga nyambung dengan artikelnya mas Ipung hahaha….

  3. Ah klo saya sih ngeblog itukan penulis, penulis kan biasa punya gaya sendiri-sendiri…, gay nulis bisa jadi sesuatu yang unik lho…

    Free your mind aja lah…, biar asyik nulisnya…

    πŸ™‚

  4. @Zalukhu
    Intinya lebih baik tetap pada gaya yang netral dan bermanfaat ya mas.. kaya biasanya πŸ™‚

    @Okta Sihotang
    Bukan.. ada yang lebih parah ancurnya dari Okta heheh πŸ™‚

    @Yudi
    Halah.. low profile sekali mas Yudi ini πŸ™‚
    Sejak awal uda jelas kalo bukan blognya mas Yudi yang saya maksud πŸ˜‰
    Tapi gapapa ding, secara implisit saya sudah diakui kalo saya pengunjung setia blognya Yudiworld πŸ™‚

    @Izandi
    Kalo ga nyangkut orang lain sih ga terlalu fatal kok mas πŸ™‚

    @Jaz
    Tiap penulis memang punya gaya sendiri. Di atas saya juga sudah mengatakan bahwa itu hak penuh sang blogger πŸ˜‰
    Tapi kalo kita mau jadi blogger yang lebih baik, ga ada salahnya kan kalo sedikit memanjakan pengunjung kita dengan menulis sesuatu yang bermanfaat atau minimal bisa bikin mereka meninggalkan halaman blog kita tanpa tanda tanya / salah paham πŸ™‚

    @Arya
    apanya yang kayak serieus?? πŸ™‚

    @masenchipz
    hidup masenchipz!!!!!
    mas.. mas.. hidup dong mas :p

  5. hmm saya koq gak tau ada kasus ini ya? ini review nya mas zalukhu yang ke berapa sih? duh.. apa aku harus lihat review2 nya satu per satu ya? πŸ˜€

  6. Nah, skrg mas Ipung yg bikin teka-teki & bakal ditanggapi serius blogger bayi kayak saya ini. “siapa blogger di paragraf 2 itu?”
    Saya kali ya? :-S

    Tp, sy jg setuju dg pendapat mas Jaz di ats. Gaya nulis blogger itu image karakter sang blogger sendiri. Memang sih, informasi tetep nomer satu.

  7. whehehe jelas bukan aku.. *ngga yakin.. hmm tapi ngga tau deh.. soalnya q ngga kenal sama yang namanya siapa itu hmm raditya ya… ya ya itu.. tau lah sapa… yang aku tau di bikin buku yang cover depannya pake idung babi.. hihihi.. * πŸ˜› πŸ˜›

  8. salam kenal mas, blog walking nih, sambil numpang baca2, oh ya kunjungi blogQ juga dong, dan tolong kasih komen, satu lagi, boleh tukeran link ga’ ? kalau boleh, langsung direview di blogq ya, di http://tpers04.co.cc, makasih, mohon kunjungannya.

  9. @duan
    Iya.. kita sama-sama belajar yuk πŸ™‚

    @Jimmy
    Saya ambil jadi pelajaran juga karena jadi agak rame Pak. Padahal dari awal mungkin maksudnya becanda sambil memberikan pandangan jujur seorang mas Zalukhu πŸ™‚
    Di review yang titlenya “Boooodooooo” pak Jimmy πŸ™‚

    @abbie
    Waduh.. nda usah dipikirin siapa blogger yang disebut di paragraf ke dua itu πŸ™‚
    Saya uda buat disclaimer lho ya, saya uda bilang bahwa itu hak si blogger itu sendiri.
    Pertanyaannya… bila saya nulisnya berubah kaya blogger itu, apa mas Abbie masih mau meluangkan waktu datang ke blog ini dan membaca artikel yang nda jelas arah dan tujuannya? πŸ™‚

    @andri
    Ya jelas bukan, orang saya aja baru tau blognya mas Andri hehehe
    Terima kasih sudah mampir (b)

    @Hendra
    Salam kenal mas..
    Saya akan mengunjungi balik ke blognya πŸ™‚
    Terima kasih sudah mampir (b)

  10. kalo dicari kesalahannya, pasti semua kena πŸ˜€ termasuk saya yg masih seabreg πŸ˜€ ya itu tadi, karena blogger juga manusia :-p

    (hbis telusuri link2 di atas, ternyata banyak blog yg belum pernah saya kunjungi rupanya πŸ˜‰ )

  11. pagi2 mampir lagi nih. mau, konfirm postinganq yang “kisah kebaikan si panda, emang mas, si panda emang baik hati, maksih ya udah berkunjung, oh ya, boleh tukran link ga’ ? kalu boleh, tolong dikonfirm or direview di blogQ lagi ya, maksih. πŸ˜€

  12. Mas Ipung maen aman, pake disclaimer juga πŸ™‚ iya tiap blogger kan punya style sendiri, ntah mau tiru ato memang aslinya, ya klo saya, asal isinya bagus dan worth to read aja.

  13. @hendra
    Perasaan komentar saya di sana ga dibalas πŸ™‚
    Cuma ALL : “…” hehehe

    @izandi
    Iya mas.. saya bikin artikel ini kan bukan cari musuh. Hanya berbagi pengalaman saja.. Bila dirasa berguna dan layak jadi pemikiran ya silahkan. Bila tidak setuju ya tidak apa-apa. Saya open minded dan senang mendengar pemikiran orang lain kok πŸ™‚

    Analogi simpel dari artikel di atas seperti ini
    Jika kita beli makanan di suatu warung dan ternyata makanan tersebut tidak enak, keasinan, ga ada rasanya (bahasa jawanya anyep) ato kurang berkenan rasanya, apa ya kita mau beli di situ lagi?

    Analogi tersebut bisa berlaku juga untuk sebuah blog.
    Saya cenderung menghargai visitor sebagai teman yang berbaik hati membantu menaikkan traffic saya. Jadi kalo kita ingin berusaha memanjakan pemikiran mereka dengan menulis sesuatu yang layak untuk dibaca dan tidak menimbulkan salah paham saya rasa tidak ada salahnya. Tujuannya kan baik πŸ™‚

    Dan saya tidak menghakimi gaya menulis yang lebih self centered juga. Karena seperti yang saya sebut tadi, blog itu milik mereka πŸ™‚

    Sebetulnya saya cuma mau memberi tahukan polemik di blognya mas Zalukhu.. biar pada penasaran dan jadi traffic ke blognya mas Zalukhu.. Namanya juga ping pong traffic πŸ™‚

  14. wow,sama kek om jimmy, saya juga ketinggalan brita inih,,ini review yang keberapa ya?

    tapi betul juga sih pung,, aku dah nemu banyak blog dengan gaya nulis yang ga original dan kesannya radityadika wannabe, aku juga ndak tau motifnya apa..tapi kalo dibaca tulisan2nya kayak ‘mendekati’ gaya2 ngepost na kambing jantan.. ;p

  15. Weleh yg koment banyak banget, jadi rame oi. kalo tulis menulis sih terserah yg nulis tapi jangan nulis yg dah di tulis ma orang lain.

  16. blognya yg mana sih??
    gokilnya kaya apa sih..??
    penasaran..
    *langsung melakukan tracing*
    setuju Pung, gak perlu ikut2an.. jadilah diri sendiri..

  17. @sapimoto
    Anda benar πŸ™‚

    @kopitozie
    monggo..monggo.. monggo..

    @rudyahud
    Ini bukan postingan kontes mas.. ga ada link ke posting review-nya mas Zalukhu.. Ini murni balas ping-pong-an mas Zalukhu πŸ˜‰

    @ai
    kenapa harus tanya? Memang ai niru Raditya? engga kan πŸ˜‰

    @ika
    nomor 97 πŸ™‚

    Ga tau motifnya apa.. mungkin mereka berpikir kalo Radit bisa diterima kegilaannya, mereka jadi merasa perlu mempublikasikan kegilaan mereka pada publik. Sapa tau ada publisher yang melirik πŸ™‚

    Padahal kita katanya mencari pemimpin yang berwibawa dan berpikiran cemerlang.. kalo stok generasi mudanya lebih senang jadi gila semua bisa repot kita πŸ™‚

    @izandi
    gimana apanya?
    Jangan-jangan mas Izandi nunggu balesan email saya ya?
    Saya belum bisa akses email mas ga tau kenapa..

    @kipram
    emang sebenernya terserah mas.. yah.. saya juga cuma berbagi pikiran aja πŸ™‚

    @the gands
    Saya pribadi lebih seneng yang pendek tapi jelas dan penuh makna.. Panjang juga gapapa, asal tidak banyak kata yang terbuang sia-sia πŸ˜‰
    Tapi itu kan saya, mungkin orang lain punya preferensi yang berbeda πŸ™‚

  18. @Izandi
    Justru saya yang minta maaf karena tidak bisa segera merespon surat mas Izandi. Semoga akses ke account email saya lekas beres ya mas πŸ˜‰

  19. @daniel
    Selamat berpikir mas Daniel πŸ™‚
    Terus semangat ya πŸ˜‰
    Terima kasih sudah mampir (b)

    @andri
    Salam kenal juga πŸ™‚

    @Izandi
    Terima kasih ya uda sabar πŸ™‚

    @Paman Gober
    Bersin-bersin? wah.. segera dilaporkan ke pemerintah setempat aja mas.. cegah flu burung hehehe πŸ™‚

    @ai
    Asal ga ada niat niru, sekalipun ada yang bilang gaya kita sama dengan siapa gitu, kita ga akan ada beban moral kan πŸ™‚

  20. Wah koq banyak polemik gini toh, di tempat ndoro polemik di sini polemik hmm btw koq feed mu kadang2 telat to bro whats happen nih dgn feedburner kuh

  21. @fenny
    Hehehe.. kok bisa ngerasa mirip.. jelas-jelas beda gitu lho πŸ™‚
    *fenny fans mode:on*

    @Artha
    Blog artha.web.id itu dewasa sekali, jadi ga mungkin dong ngerasa sebagai tersangka πŸ™‚
    Saya juga masih terus belajar perihal tulis menulis πŸ™‚

    @daaan
    Emang ditempat ndoro ada polemik apa? Saya malah ketinggalan berita πŸ™‚
    Ga tau ada apa dengan feedburner.. aku belum daftarin blog ini ke feedburner sih.. mungkin jadi agak gimana gitu mereka ngecrawl-nya πŸ™‚

    @duan
    Selamat ngaso mas πŸ™‚

    @Fachia
    Bikin lagunya yukz πŸ™‚

  22. @Badoer
    Dibawa ke mana aja mas? πŸ˜€
    Ya sudah, kita jadikan pelajaran bersama aja.. Semoga kita tidak menimbulkan kesalahpahaman yang sama πŸ™‚

  23. Meskipun ndak pernah tatap muka tapi hati memang bisa terluka..
    Blogger memang punya kebebasan yang hampir sebebas-bebasnya tapi jangan lupa kita juga harus menhormati kebebasan orang lain dengan kebebasan kita itu..
    Lam kenal.

  24. @Artha
    sudah dijawab dengan artikel pertanyaannya πŸ˜€

    @Ecko
    blogger yang mana nih? πŸ˜€

    @Silo
    Setuju.. sambil ngeblog sambil belajar berinteraksi secara santun ga ada salahnya saya rasa. Tapi dalam kasus ini, gaya bahasa Mas Zalukhu dibuat menyerupai blog yang direview.. ternyata kurang berkenan di hati pemilik blog..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *